Februari, kenapa dia begitu berbeda? Di saat yang lain memiliki lebih banyak hari, dia tetap diam dengan kurangnya. Di saat yang lain berkumpul dengan jumlah hari yang sama, dia tetap diam dengan sepinya. Ada apa dengan Februari?
Februari demi Februari kulalui. Menyisir lautan, bertemu perompak. Menginjak daratan, mati tertembak. Membelah hutan, tertusuk tombak. Penuh catatan, selalu menebak. Apakah Aku Februari?
Februari merupakan awal dari sebuah luka. Luka bagi mereka yang hanya dapat merayakan hari jadinya empat tahun sekali. Luka bagi mereka yang percaya takhayul kabisat. Atau bagiku, bagaimana denganmu? Februari?
Senja tak selalu jingga. Langit tak selalu cerah. Mawar tak selalu merah. Bahkan violet tak selalu biru. Badai akan berlalu, tapi pasti akan mampir kembali. Bagaimana dengan Februari? Apa yang salah dengannya?
Luka yang serupa terulang. Menyobek kembali bekas yang lama. Membusuk. Tuhan, apakah ini sebuah kebetulan?
Februari 2018.

0 komentar