Letter

Ada Apa Dengan Pukul Dua Pagi?

12.47




Acap kali mataku tetap terjaga sampai dini hari. Suasana yang sepi, sunyi, dingin, tampak luarnya. Namun, tidak. Itu hanya fatamorgana. Jika dilihat di dalam, realitanya adalah ramai, berisik, dan panas. Meskipun begitu, mengapa kepalaku sangat betah menikmati suasana itu? 
 
Lalu, aku menyadari sesuatu. Ada yang aneh pada pukul dua pagi. Aku tidak menyangka bahwa waktu yang hanya berupa angka dapat menjadi sesuatu yang terkadang aku takuti. 
 
Tapi, kasihan waktu. Sebenarnya, dia tidak salah apa-apa. Dia hanya menjalankan tugasnya untuk terus berpendar. Masa lalu. Masa sekarang. Masa depan. Manusia selalu memberatkan pikiran mereka dengan ketiga hal tersebut. Dan sialnya, semua itu berhubungan dengan waktu. 
 
Sungguh, aku tidak menyalahkan waktu. Aku hanya membenci diriku yang selalu berkutat dengan pikiranku tentang waktu. 
 
Perihal masa lalu, kita selalu menghubungkan dengan frasa tentang mengenang dan mengingat. Secara harfiahnya, kedua kata tersebut memiliki arti yang sama, bukan? Tapi, menurutku tidak. Mereka memiliki arti yang jauh berbeda. Mengenang berada pada ruang kebahagiaan. Sedangkan, mengingat, biasanya berada di bilik kesedihan. 
 
Akhir-akhir ini, aku selalu dibelenggu oleh frasa mengingat. Entahlah. Aneh sekali. Hanya dengan potongan-potongan memori ditambah bumbu dari angin pukul dua pagi, mereka berkolaborasi menghasilkan resep yang sangat pas untuk menyajikan rasa —pahit seringnya— pada pikiranku. Aku ingin mengusirnya. Namun, selalu berakhir kalah. Dengan tenggelam pada isi kepalaku sendiri.


Sha,

5 Mei 2021. 





You Might Also Like

0 komentar